Pabrik Produsen Toko Pintu Pagar BRC Bantul
Pagar BRC Tinggi 150 7Ep

Pemasangan Pintu Pagar BRC Bantul

Diposting pada 536 views

Pabrik Produsen Toko Pintu Pagar BRC Bantul

Pabrik Produsen Toko Pintu Pagar BRC Bantul
Nama Konsumen Pemesan : Bapak Edi
Lokasi / Alamat Pemasangan : Bambanglipuro Bantul
Ukuran dan Jenis Pagar BRC yang dipilih adalah : Tinggi 150 7EP
Biaya Pemasangan Pagar BRC Rp. 55.000 / Lembar

Bagi warga Bambanglipuro, Banguntapan, Bantul, Dlingo, Imogiri, Jetis, Kasihan, Kretek, Pajangan, Pandak, Piyungan, Pleret, Pundong, Sanden, Sedayu, Sewon, Srandakan dan sekitarnya yang membutuhkan pagar BRC dan hendak memasang pintu dan pagar BRC seperti Bapak Edi, baik pagar besi BRC, pagar minimalis maupun pagar besi tempa / klasik, silahkan meghubungi kami Pabrik Produsen Toko Pintu Pagar BRC Bantul untuk mendapatkan harga penawaran terbaik dari kami, silahkan menghubungi kami untuk bertanya-tanya, ber-konsultasi terlebih dahulu mengenai daftar harga terbaru, ukuran dan jenis pagar BRC yang cocok untuk keperluan dan kebutuhan anda. Pagar BRC bisa digunakan untuk

  1. pagar pengaman / pembatas untuk berbagai property seperti: Rumah tinggal / Perumahan / Taman.
  2. Pertokoan / Perkantoran.
  3. Pabrik / Pergudangan.
  4. Pelabuhan / Depo Kontainer.
  5. Lapangan olah raga / Sekolah / Bandar Udara.
  6. Tower BTS / Berbagai Proyek

Selain pemasangan pintu pagar BRC, kami juga menyediakan tiang BRC, Kawat duri, Klem U-Clip BRC dan menerima jasa pembuatan pagar besi minimalis / tempa (klasik), kanopi, teralis jendela, railing tangga / balkon, tangga putar dan jasa las lainnya.

Untuk mengetahui daftar harga BRC terbaru, silahkan klik Daftar Harga BRC Terbaru

Berikut ini adalah Galeri/Dokumentasi foto-foto pemasangan pagar BRC Bambanglipuro Bantul

Ulasan Singkat Sekilas Tentang Bantul

Bantul merupakan salah satu kabupaten yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Ibu kotanya adalah Bantul. Tahun 2018 merupakan tahun pertama bagi kabupaten Bantul memiliki jumlah penduduk mencapai 1 juta jiwa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bantul tahun 2019 mencatat, jumlah penduduk kabupaten Bantul berjumlah 1.006.692 jiwa, dengan wilayah terbanyak ada di kecamatan Banguntapan berjumlah 145.956 jiwa, dan paling sedikit berada di kecamatan Srandakan berjumlah 29.414 jiwa.

Moto kabupaten ini adalah Projotamansari, yang merupakan singkatan dari Produktif-Profesional, Ijo royo royo, Tertib, Aman, Sehat, dan Asri. Kabupaten Bantul berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman di sebelah utara, Kabupaten Gunung Kidul di sebelah timur, Samudra Hindia di sebelah selatan, serta Kabupaten Kulon Progo di sebelah barat.

Bagian selatan kabupaten ini berupa pegunungan kapur, yakni ujung barat dari Pegunungan Sewu. Sungai besar yang mengalir di antaranya Kali Progo (membatasi kabupaten ini dengan Kabupaten Kulon Progo, Kali Opak, Kali Tapus, beserta anak-anak sungainya.

Pada 27 Mei 2006, gempa bumi besar berkekuatan 5,9 skala Richter mengakibatkan kerusakan yang besar terhadap daerah ini dan kematian sedikitnya 3.000 penduduk Bantul. Daerah yang terkena dampak terparah dari gempa tersebut adalah Pundong dan Imogiri.

Bantul memang tak bisa dilepaskan dari sejarah Yogyakarta sebagai kota perjuangan dan sejarah perjuangan Indonesia pada umumnya. Bantul menyimpan banyak kisah kepahlawanan, seperti perlawanan Pangeran Mangkubumi di Ambarketawang, upaya pertahanan Sultan Agung di Pleret, dan perjuangan Pangeran Diponegoro di Selarong. Kisah perjuangan pionir penerbangan Indonesia yaitu Adisucipto, pesawat yang ditumpanginya jatuh ditembak Belanda di Desa Ngoto. Sebuah peristiwa penting yang dicatat dalam sejarah adalah Perang Gerilya melawan pasukan Belanda. Saat itu, pasukan Indonesia berada di bawah kepemimpinan Jenderal Sudirman (1948) dan mereka banyak bergerak di sekitar wilayah Bantul. Wilayah ini pula yang menjadi basis, “Serangan Oemoem 1 Maret” (1949) yang dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Tolok awal pembentukan wilayah Kabupaten Bantul adalah perjuangan gigih Pangeran Diponegoro melawan penjajah bermarkas di Selarong sejak tahun 1825 hingga 1830. Seusai meredam perjuangan Diponegoro, Pemerintah Hindia Belanda kemudian membentuk komisi khusus untuk menangani daerah Vortenlanden. Komisi tersebut bertugas menangani pemerintahan daerah Mataram, Pajang, Sokawati, dan Gunung Kidul. Kontrak kasunanan Surakarta dengan Yogyakarta dilakukan baik dalam hal pembagian wilayah maupun pembayaran ongkos perang, penyerahan pemimpin pemberontak, dan pembentukan wilayah administratif.(Sumber)