Pengiriman Pagar BRC Banyuraden Sleman

Diposting pada 211 views

Pabrik Produsen Toko Pagar BRC Banyuraden Sleman

Pabrik produsen toko pagar BRC Banyuraden Sleman. Pagar BRC adalah singkatan dari British Reinforced Concrete ditemukan oleh sebuah perusahaan konstruksi di Singapura. Lalu di Indonesia dikenal dengan sebutan pagar BRC yang sebenarnya terbuat dari besi beton dengan diameter 5mm sampai 8mm (tergantung dari ketinggian pagar, semakin tinggi semakin besar diameternya). Pagar BRC adalah panel pagar minimalis yang siap pasang dan semakin banyak digunakan.

Salah satu konsumen yang mempercayakan berbelanja pagar BRC kepada kami yaitu :
Nama Konsumen Pemesan : Ibu Yeni
Tempat / Alamat Pengiriman : Masjid Al-Asel Perumahan Kanoman Jl. Tata Bumi Selatan,Area Sawah Banyuraden, Kec. Gamping, Kab. Sleman Yogyakarta
Ukuran dan Jenis Pagar BRC yang dipilih : Tinggi 175 6EP

Bagi warga Ambarketawang, Balecatur, Banyuraden, Nogotirto, Trihanggo dan sekitarnya yang membutuhkan pintu atau pagar BRC seperti Ibu Yeni, baik pagar pintu besi BRC tipe elektroplating atau Hot Dip, Tiang BRC, Klem / U-Clip aksesoris BRC, dan Kawat duri silahkan meghubungi kami Pabrik Produsen Toko Pagar BRC Banyuraden Sleman untuk mendapatkan harga penawaran terbaik dari kami, silahkan menghubungi kami untuk bertanya-tanya, ber-konsultasi terlebih dahulu mengenai daftar harga terbaru, ukuran dan jenis pagar BRC sesuai kebutuhan anda. Selain menyediakan panel pagar BRC madaniah juga menerima jasa pembuatan pemasangan pintu dan pasang pagar BRC.

Kegunaan Pagar BRC diantaranya adalah :

  1. pagar pengaman / pembatas untuk berbagai property seperti: Rumah tinggal / Perumahan / Taman.
  2. Pertokoan (Ruko) / Perkantoran.
  3. Pabrik / Pergudangan.
  4. Pelabuhan / Depo Kontainer.
  5. Lapangan olah raga / Sekolah / Bandar Udara.
  6. Tower BTS / Berbagai Proyek

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi link DAFTAR HARGA BRC TERBARU untuk mengetahui daftar harga BRC ukuran besi 5, 6, 7 dan 8 type elektroplating dan Hot Dip galvanis yang terbaru.

Berikut ini adalah galeri dokumentasi gambar foto pengiriman pagar BRC Masjid Al-Asel Perumahan Kanoman Jl. Tata Bumi Selatan,Area Sawah Banyuraden, Kec. Gamping, Kab. Sleman Yogyakarta

Ulasan Singkat Sekilas Tentang Banyuraden Sleman

Banyuraden adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Asal mula nama Banyuraden adalah penggabungan antara kelurahan Banyumeneng dan kelurahan Kradenan. Penggabungan kedua kelurahan tersebut terjadi pada tahun 1946 berdasarkan Maklumat Pemerintah Provinsi Yogyakarta. Saat ini Desa Banyuraden memiliki 8 Padukuhan, 22 RW, 78 RT. Sebagai wilayah yang terletak di pinggiran kota (sub-urban), kebanyakan mata pencaharian penduduk Desa Banyuraden adalah petani, atau buruh tani.

Di Desa Banyuraden terdapat upacara Tradisi Suran Mbah Demang Modinan. Upacara ini diadakan oleh masyarakat Dusun Modinan untuk mengenang perjuangan hidup Ki Demang Cakradikrama, seorang demang-pabrik. Upacara diselenggarakan setiap tahun sekali pada tanggal 7 Sura, tepatnya saat tengah malam menjelang tanggal 8 Sura. Adapun pelaksanaan upacaranya bertempat di dusun di mana Ki Demang Cakradikrama terakhir bermukim, di Dusun Modinan. Di dusun itu pula sumur sebagai sumber air yang pernah dipakai mandi oleh Ki Demang Cakradikrama.

Ki Demang Cakradikrama yang bernama kecil Asrah terkenal karena meski nakal saat masih remaja, namun rajin bertapa. Suatu saat ia berhasil memenangkan sayembara memberantas kejahatan di sekitar Kali Bayem dan Kali Dowangan. Atas jasanya, ia kemudian diangkat menjadi mandor perkebunan tebu. Pada suatu kemarau panjang, banyak perkebunan tebu di daerah tersebut menjadi kering. Atas permintaan pemilik pabrik gula, Asrah menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit di tengah lapangan dan memohon kepada Yang Maha Agung untuk memberikan air bagi para petani yang kelaparan. Saat pertengahan pertunjukan, turunlah hujan yang dinanti. Ia kemudian diangkat menjadi Demang.

Semua keberhasilan Ki Demang tersebut berkat laku prihatin yaitu tidak makan garam, dan setiap sore laku tapa bisu mengelilingi rumahnya. Selain itu, Ki Demang juga “nglakoni” dengan mandi setahun sekali, yaitu setiap malam menjelang tanggal 8 Sura bertempat di sumur di belakang rumahnya.(Sumber)